Beban APBN
untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) semangkin membengkak dari tahun ketahun,
sehingga sejumlah pihak mengusulkan agar harga BBM dalam negeri dinaikan seperti
yang telah dilakukan baru-baru ini. Saat ini saja, beban APBN untuk subsidi BBM
telah mencapai Rp 212,1 triliyun (Cahaya.co). Pilihan untuk menaikan harga BBM
merupakan pilihan termudah untuk mengurangi beban APBN, akan tetapi pilihan tersebut
berdampak pada inflasi pengangguran dan dampak non-ekonomi seperti berkurangnya
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.
Minyak atau bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Di Indonesia sendiri terjadi
penurunan produksi bahan bakar minyak, dari sejak tahun 2001 hingga sekarang.
Penyebab penurunan tersebut dikarenakan produksi minyak mentah didominasi oleh
gas karena Oil Reserve Replacement Ratio (RRR) berada dibawah 100% dan juga
berada dibawah Gas Reserve Replacement Ratio (Bani Tiofan
Tanpubulon : 2014). Penurunan produksi minyak tersebut berbanding terbalik
dengan kondisi pemakaian bahan bakar minyak yang ada saat ini. Berdasarkan data
yang diperoleh dari kementrian ESDM, penjualan BBM di Indonesia terus meningkat
dari tahun 2000 hingga tahun 2013 yaitu dari 56.265.602 kilo liter menjadi
71.327.001 kilo liter atau meningkat sekitar 1,22%. Peningkatan tersebut diprediksi
akan terus bertambah untuk tahun-tahun berikutnya (migas.esdm.go.id).
Salah satu cara
yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebutuhan BBM adalah dengan memanfaatkan
bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti BBM konvensional.
Salah satu bahan bakar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti BBM adalah
minyak dari hasil pengolahan sampah plastik. Potensi pengembangan sampah
palstik menjadi minyak cukup menjanjikan, hal ini dikarenakan jumlah sampah
plastik di Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia yakni sebesar 5.4 juta
ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah (inswa.or.id). Selain
itu menurut penelitian yang dilakukan oleh
Dr Christ Wilcox yang dimuat dalam
Jurnal Science bahwa Indonesia menempati urutan ke dua dibawah China dalam
daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut, dengan
demikian di Indonesia tersedia banyak bahan baku untuk mengolah plastik menjadi
minyak.
Potensi sampah plastik
jika dimanfaatkan secara maksimal akan dapat mengatasi kebutuhan bahan bakar
minyak di Indonesia. Pemanfaatan sampah plastik menjadi minyak dilakukan
melalui proses pemanasan dengan suhu diatas 3000
C sehingga menjadi uap dan didinginkan oleh fluida cair untuk mendapatkan hasil
minyaknya. Untuk memanaskan plastik sampai suhu 3000 C diperlukan
kompor yang sesuai sehingga suhu dalam reaktor sampah plastik dapat terjaga.
Salah satu konsep yang dapat digunakan dalam pembuatan reaktor sampah plastik agar
panas yang dihasilkan lebih stabil adalah dengan membuatan kompor gasifikasi. Kompor
gasifikasi merupakan kompor yang mamapu mengkonversi biomassa menjadi gas mudah
terbakar CO, H2 dan CH4 yang selanjutnya menghasilkan
nyala api dengan temperatur 800-1100 K atau setara dengan 527-827 0C
(Reed : 2000).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan
alat penyulingan sampah plastik. Alat yang akan dikembangkan adalah berupa
kompor gasifikasi dan reaktor pemanas sampah plastik. Manfaat dari penelitian
ini adalah menghasilkan alat penyulingan sampah plastik yang berguna untuk
menghasilkan minyak tanah dan parafin sebagai alternatif pengganti BBM, selain
itu manfaat tidak langsung dari penelitian ini adalah sebagai cara untuk
mengurangi jumlah sampah plastik di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar