Rabu, 11 Maret 2015

Plastic Oil Sebagai Energi Alternatif


Beban APBN untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) semangkin membengkak dari tahun ketahun, sehingga sejumlah pihak mengusulkan agar harga BBM dalam negeri dinaikan seperti yang telah dilakukan baru-baru ini. Saat ini saja, beban APBN untuk subsidi BBM telah mencapai Rp 212,1 triliyun (Cahaya.co). Pilihan untuk menaikan harga BBM merupakan pilihan termudah untuk mengurangi beban APBN, akan tetapi pilihan tersebut berdampak pada inflasi pengangguran dan dampak non-ekonomi seperti berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.
Minyak atau  bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Di Indonesia sendiri terjadi penurunan produksi bahan bakar minyak, dari sejak tahun 2001 hingga sekarang. Penyebab penurunan tersebut dikarenakan produksi minyak mentah didominasi oleh gas karena Oil Reserve Replacement Ratio (RRR) berada dibawah 100% dan juga berada dibawah Gas Reserve Replacement Ratio (Bani Tiofan Tanpubulon : 2014). Penurunan produksi minyak tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pemakaian bahan bakar minyak yang ada saat ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari kementrian ESDM, penjualan BBM di Indonesia terus meningkat dari tahun 2000 hingga tahun 2013 yaitu dari 56.265.602 kilo liter menjadi 71.327.001 kilo liter atau meningkat sekitar 1,22%. Peningkatan tersebut diprediksi akan terus bertambah untuk tahun-tahun berikutnya (migas.esdm.go.id).
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebutuhan BBM adalah dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti BBM konvensional. Salah satu bahan bakar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti BBM adalah minyak dari hasil pengolahan sampah plastik. Potensi pengembangan sampah palstik menjadi minyak cukup menjanjikan, hal ini dikarenakan jumlah sampah plastik di Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia yakni sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah (inswa.or.id). Selain itu menurut penelitian yang dilakukan oleh  Dr Christ Wilcox yang dimuat dalam Jurnal Science bahwa Indonesia menempati urutan ke dua dibawah China dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut, dengan demikian di Indonesia tersedia banyak bahan baku untuk mengolah plastik menjadi minyak.
Potensi sampah plastik jika dimanfaatkan secara maksimal akan dapat mengatasi kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia. Pemanfaatan sampah plastik menjadi minyak dilakukan melalui proses pemanasan dengan suhu diatas 3000 C sehingga menjadi uap dan didinginkan oleh fluida cair untuk mendapatkan hasil minyaknya. Untuk memanaskan plastik sampai suhu 3000 C diperlukan kompor yang sesuai sehingga suhu dalam reaktor sampah plastik dapat terjaga. Salah satu konsep yang dapat digunakan dalam pembuatan reaktor sampah plastik agar panas yang dihasilkan lebih stabil adalah dengan membuatan kompor gasifikasi. Kompor gasifikasi merupakan kompor yang mamapu mengkonversi biomassa menjadi gas mudah terbakar CO, H2 dan CH4 yang selanjutnya menghasilkan nyala api dengan temperatur 800-1100 K atau setara dengan 527-827 0C (Reed : 2000).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan alat penyulingan sampah plastik. Alat yang akan dikembangkan adalah berupa kompor gasifikasi dan reaktor pemanas sampah plastik. Manfaat dari penelitian ini adalah menghasilkan alat penyulingan sampah plastik yang berguna untuk menghasilkan minyak tanah dan parafin sebagai alternatif pengganti BBM, selain itu manfaat tidak langsung dari penelitian ini adalah sebagai cara untuk mengurangi jumlah sampah plastik di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar